MATA KULIAH EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, April 2021
POTENSI
GAHARU SEBAGAI KOMODITI PASAR INTERNASIONAL
Dosen
Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh:
Ika Darwati Nainggolan
191201116
HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas rahmat dan berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan baik
dan tepat waktu. Paper ini berjudul “Potensi
Gaharu Sebagai Komoditi Pasar Internasional ” paper ini disusun sebagai salah satu
syarat dalam mengikuti mata kuliah ekonomi Sumberdaya Hutan pada Program Studi
Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan yaitu Dr. Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
semua teman-teman yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.
Penulis
menyadari bahwa paper ini belum sempurna sehingga penulis mengharapkan kritik
dan saran demi penyempurnaan paper ini. Semoga paper ini bermanfaat bagi kita
semua.
Medan, April 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB
I PENDAHULUAN
..... 1.1.
Latar Belakang.................................................................................. 1
..... 1.2. Tujuan Penulis................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
..... 2.1.
Karakteristik Gaharu......................................................................... 3
..... 2.2.
Potensi Ekonomi Gaharu................................................................... 7
..... 2.3.
Prospek Pasar Gaharu........................................................................ 9
..... 2.4. Pemanfaatan Gaharu....................................................................... 12
BAB III PENUTUP
..... 4.1.
Kesimpulan ..................................................................................... 14
..... 4.1. Saran................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman gaharu (Aquilaria
malaccensis) merupakan tanaman hutan yang menghasilkan hasil hutan bukan
kayu (HHBK) yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman ini dapat memproduksi gubal
gaharu yang aromanya harum, mengandung damar Aquilaria malaccensis wangi
(aromatik resin) sebagai akibat adanya serangan jamur. Gubal gaharu sebagai
komoditi elit bermanfaat untuk keperluan industri parfum, kosmetik, tasbih dan obat-obatan.
Pemanfaatan gaharu dilakukan dengan cara penebangan pohon sehingga kelestarian
tegakan gaharu secara teknis perlu didukung oleh upaya pembudidayaan (Anwar
& Hartal, 2007).
Sumberdaya hutan merupakan
salah satu modal pembangunan yang memiliki berbagai
macam potensi yang dapat memberikan manfaat
ekonomi, lingkungan maupun
manfaat sosial bagi masyarakat. Manfaat
yang dihasilkan oleh hutan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian,
yaitu manfaat yang dirasakan
secara langsung (tangible) dan
manfaat yang dirasakan secara tidak langsung
(intangible). Manfaat tangible dari hutan dapat berupa kayu
ataupun non kayu seperti rotan,
madu, getah-getahan, sagu dan hasil hutan non kayu lainnya. Sedangkan manfaat intangible hutan dapat berupa jasa lingkungan (hidrologis, penyerapan karbon), jasa wisata
alam, pendidikan, dan lain-lain.
Pemanfaatan hutan alam Indonesia selama ini masih bertumpu pada
hasil hutan berupa kayu. Dari
komoditas kayu tersebut, pemerintah dan masyarakat telah memperoleh manfaat yang besar baik secara ekonomi maupun
sosial. Di sisi lain masih banyak
potensi kawasan hutan yang bernilai
ekonomis yang perlu digali dan dioptimalkan pengelolaan, pemanfaatan maupun pemungutannya, seperti usaha kehutanan dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang biasanya
disebut non-timber forest product atau minor forest
product.
Hastoeti (2008) menyebutkan bahwa Indonesia memiliki
keanekaragaman hayati terbesar
ketiga setelah Brazil dan Zaire. Di Indonesia
tumbuh sekitar 30.000-40.000 jenis tumbuhan yang menyebar
di seluruh kepulauan Indonesia. Diantara
ribuan jenis tumbuhan yang tumbuh di Indonesia, sebagian diantaranya merupakan penghasil HHBK yang memiliki
nilai jual yang cukup potensial dan dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan masyarakat lokal dan sebagai sumber devisa negara. Gaharu merupakan bahan dasar dalam pembuatan
produk-produk berkualitas
tinggi, permintaan dunia akan produk gaharu akan terus meningkat setiap tahunnya. Menurut
Santoso (2013), kebutuhan gaharu dunia berjumlah 4000 ton/tahun dan semakin meningkat dari
tahun ke tahun. Dimulai dari negara- negara berpenduduk besar seperti Cina dan India selanjutnya negara-negara Indocina seperti Laos, Kamboja, Vietnam
dan Thailand pun tidak mau ketinggalan
untuk mengembangkan produk gaharu. Negara yang memiliki kultur penggunaan gaharu secara turun temurun
lebih serius menangani aspek produksi dari
mulai melakukan penanaman pohon penghasil gaharu sebanyak-banyaknya dan juga mempelopori pembangunan industri gaharu berbasis penelitian dan pengembangan.
Menurut Touchwood (2012), investasi pada produk gaharu ini
merupakan salah satu cara terbaik
dalam meningkatkan portfolio
bisnis dengan resiko
yang cenderung rendah. Terdapat
beberapa kelebihan dalam bisnis gaharu ini diantaranya gaharu merupakan salah satu
spesies langka dimana hanya terdapat satu dari seratus pohon penghasil gaharu (Aquilaria spp.
dan Gyrinops spp.), setiap pohon mengandung kualitas gaharu yang berbeda namun semua jenis kualitas
tersebut dapat dijual dan dimanfaatkan. Misalnya gaharu kualitas tinggi dapat digunakan sebagai dupa dan patung,
sedangkan kualitas yang lebih rendah dapat
dibentuk menjadi chips atau
diekstraksi untuk menghasilkan minyak gaharu.
Gaharu merupakan salah satu komoditas
yang menarik minat pedagang tumbuhan liar dikarenakan mempunyai
nilai sosial, budaya dan ekonomi yang cukup
tinggi. Secara tradisional gaharu dimanfaatkan antara lain dalam bentuk dupa untuk acara ritual dan keagamaan,
pengharum tubuh dan ruangan, bahan kosmetik dan obat-obatan sederhana. Saat ini pemanfaatan gaharu telah berkembang antara lain untuk parfum, aroma
terapi, sabun, body lotion dan bahan obat-obatan yang memiliki khasiat
sebagai obat anti kanker, anti mikroba, stimulan
kerja syaraf dan pencernaan (Siran
2013).
1.2 Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui potensi Gaharu
sebagai komoditi kehutanan yang mampu menembus pasar internasional.
2.
Mengetahui potensi apa saja
yang terdapat dalam pohon gaharu dalam pengelolaannya sebagai hasil hutan yang
memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Gaharu
Gaharu adalah kayu berwarna
kehitaman dan mengandung resin khas
yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga/genus Aquilaria,
terutama A. malaccensis.
Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum.
Gaharu sejak awal era modern (2000 tahun yang lalu) telah menjadi komoditi
perdagangan dari Kepulauan Nusantara ke India, Persia, Jazirah Arab, serta Afrika Timur.Gaharu dihasilkan oleh tanaman sebagai respon dari mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka.Luka pada tanaman
berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang patah
atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan
penggergajian.Masuknya mikroba ke dalam jaringan tanaman dianggap sebagai benda
asing sehingga sel tanaman akan menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap
penyakit atau patogen. Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan
beraroma harum, serta menumpuk pada pembuluh xilem dan floem untuk
mencegah meluasnya luka ke jaringan lain.
Namun, apabila mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem
pertahanan tanaman maka gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka
dapat membusuk. Pohon gaharu mempunyai fungsi ekologis dari aspek konservasi
tanah dan air, karena pohon ini mempunyai tajuk yang rapat dan sistem perakaran
yang dalam. Akan tetapi termasuk jenis pohon yang memiliki kayu yang jelek,
sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai bahan bangunan. Pohon ini cocok
tumbuh di dataran miring (tebing), tanahnya berpasir, berkapur, berbatu, dengan
ketinggian tempat 300-1600 mdpl dan curah hujan lebih dari 1500 mm/tahun sesuai
dengan kondisi lahan pada Desa Putat Lor, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten
Malang. Potensi untuk mengembangkan tanaman gaharu di Desa Putat Lor mencakup
tersedianya kawasan lahan produksi maupun kawasan lahan milik masyarakat.
Ciri-ciri bagian tanaman yang
telah menghasilkan gaharu adalah kulit batang menjadi lunak, tajuk tanaman menguning
dan rontok, serta terjadi pembengkakan, pelekukan, atau penebalan pada batang
dan cabang tanaman. Senyawa gaharu dapat menghasilkan aroma yang harum karena
mengandung senyawa guia dienal, selina-dienone,
dan selina dienol. Untuk
kepentingan komersil, masyarakat mengebor batang tanaman penghasil gaharu dan
memasukkan inokulum cendawan ke dalamnya. Setiap spesies pohon penghasil gaharu memiliki mikroba spesifik untuk menginduksi penghasilan gaharu dalam jumlah yang
besar. Beberapa contoh cendawan yang dapat digunakan sebagai inokulum adalah Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium
nivale, Fusarium
solani, Fusarium fusariodes, Fusarium
roseum, Fusarium
lateritium dan Chepalosporium sp.
Tanaman
gaharu (Aquilaria malacensis)
merupakan salah satu spesies dari 15 spesies lainnya yang banyak tersebar di
Indonesia dan Malaysia. Namun, tanaman tersebut juga ditemukan di beberapa
negara seperti Bangladesh, Bhutan, India, Iran, Myanmar, Filipina Singapura dan
Thailand. Tanaman ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh tinggi hingga 15-30
meter dengan diameter batang 1,5-2,5 meter dan memiliki bunga yang berwarna
putih. Daun dari tanaman ini memiliki panjang 5-11 cm dan lebar 2-4 cm. Menurut
Sitepu dkk. (2011), bunga dari tanaman gaharu (Aquilaria malacensis) 10
bersifat hermaprodit dengan panjang hingga 5 mm, memiliki aroma yang harum dan
warna hijau kekuningan atau putih. Buah gaharu memiliki warna hijau, bentuk
bulat telur dan permukaan yang kasar dengan bulu-bulu halus, panjang 3-4 cm dan
lebar 2-2,5 cm.

Gambar 1. Tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis)
2.2 Potensi Ekonomi Gaharu
Gaharu merupakan substansi aromatik yang terbentuk pada bagian kayu atau akar tanaman pohon inang (jenis Aquilara spp., Gyrinops spp.
dan Gonystylus spp.) yang telah mengalami proses perubahan fisika dan
kimia akibat terinfeksi oleh sejenis
jamur. Oleh sebab itu tidak semua pohon penghasil gaharu mengandung gaharu (Siran 2011). Kayu gaharu mengandung “oleo resin” dan “chromone” yang
menghasilkan aroma khas saat terbakar (Wiyono et al. 1996). Gaharu
telah menjadi bagian kultur budaya dan bagian dari upacara peribadatan di beberapa negara. Gaharu tersebar mulai
dari Indonesia, papua Nugini, Thailand, kamboja,
Malaysia, Laos, Vietnam sampai dengan India. Peta distribusi negara- negara penghasil gaharu dunia disajikan
pada Gambar 1.
Menurut Touchwood
(2012), investasi pada produk gaharu ini merupakan salah satu cara terbaik dalam meningkatkan portfolio
bisnis dengan resiko
yang cenderung rendah. Terdapat
beberapa kelebihan dalam bisnis gaharu ini diantaranya gaharu merupakan salah satu
spesies langka dimana hanya terdapat satu dari seratus pohon penghasil gaharu (Aquilaria spp.
dan Gyrinops spp.), setiap pohon mengandung kualitas gaharu yang berbeda namun semua jenis kualitas
tersebut dapat dijual dan dimanfaatkan. Misalnya gaharu kualitas tinggi dapat digunakan sebagai dupa dan patung,
sedangkan kualitas yang lebih rendah dapat
dibentuk menjadi chips atau
diekstraksi untuk menghasilkan minyak gaharu.
2.3
Prospek Pasar Gaharu
Gaharu merupakan
bahan dasar dalam pembuatan produk-produk berkualitas tinggi, permintaan dunia akan produk gaharu akan
terus meningkat setiap tahunnya kebutuhan gaharu dunia berjumlah 4000 ton/tahun dan semakin meningkat dari
tahun ke tahun. Dimulai dari negara- negara berpenduduk besar seperti Cina dan India selanjutnya negara-negara Indocina seperti Laos, Kamboja, Vietnam
dan Thailand pun tidak mau ketinggalan
untuk mengembangkan produk gaharu. Negara yang memiliki kultur penggunaan gaharu secara turun temurun
lebih serius menangani aspek produksi dari
mulai melakukan penanaman pohon penghasil gaharu sebanyak-banyaknya dan juga mempelopori pembangunan industri gaharu berbasis penelitian dan pengembangan.Realisasi
ekspor gaharu Indonesia baik yang berasal dari jenis Aquilaria spp. dan Gyrinops spp. disajikan dalam Tabel
1.
Tabel 1. Realisasi ekspor gaharu
alam
|
Tahun |
A. filaria |
A.malaccensis |
Gyrinops spp. |
Total (ton) |
|
2008 |
155,00 |
54,51 |
33,41 |
242,92 |
|
2009 |
432,94 |
89,08 |
- |
522,02 |
|
2010 |
491,76 |
244,56 |
- |
736,32 |
|
2011 |
473,40 |
161,52 |
- |
634,92 |
|
2012 |
516,72 |
177,41 |
- |
694,13 |
|
2013 |
515,80 |
177,51 |
5,00 |
698,31 |
![]() |
Sumber : Kementerian Kehutanan (2013)
Gambar
2 Distribusi tumbuhan
penghasil gaharu dunia
Dalam pasar gaharu dunia, Indonesia memiliki
posisi strategis karena memiliki
sebagian besar tanaman penghasil gaharu yang tersebar di seluruh pulau. Menurut Sumarna (2012), di Indonesia
terdapat ± 27 jenis tumbuhan penghasil gaharu
yang dikelompokkan kedalam 8 marga dan 3 suku. Berdasarkan sebaran tempat tumbuh, tumbuhan penghasil gaharu
umumnya tumbuh di Kalimantan (12 jenis),
Sumatera (10 jenis), dalam jumlah terbatas tumbuh di Kepulauan Nusa Tenggara
(3 jenis), Papua (2 jenis),
Sulawesi (2 jenis),
Jawa (2 jenis) dan Kepulauan Maluku (1 jenis). Data impor
gaharu dunia selama tahun 2007-2011 rata-rata mencapai 850 ton per tahun, sementara rata-rata ekspor chips
gaharu Indonesia setiap tahunnya hanya
berkisar 530 ton (CITES 2013). Kebutuhan gaharu dunia membuat volume ekspor gaharu Indonesia cenderung
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, untuk mempertahankan pangsa pasar gaharu Indonesia di pasar
dunia analisa mengenai
faktor-faktor yang memengaruhi penawaran ekspor gaharu sangat penting
dilakukan.
Pasar ekspor gaharu
Indonesia terbesar adalah negara Timur Tengah dan Cina. Mereka umumnya
meminta produk gaharu dalam bentuk gubal karena banyak
digunakan untuk pengharum ruangan, pakaian dan lambang prestige bagi pemakainya
sehingga meskipun harga gaharu naik, permintaan tetap meningkat dari tahun ke tahun. Harga gaharu di
Indonesia sangat bervariasi, menurut Siddik (2010)
gubal gaharu yang berasal dari NTB dijual berkisar antara Rp.1-6 juta/kg tergantung pada kualitasnya. Di Papua,
menurut informasi dari pemburu gaharu, gubal
gaharu yang diperoleh dari alam berharga sampai Rp.25 juta/kg; dan di Kalimantan Timur ditemukan gubal gaharu
kualitas tinggi dijual dengan harga Rp.100 juta/kg.
Tingginya
permintaan gaharu di pasar dunia dan harganya yang relatif tinggi menjadikan aktifitas perburuan gaharu semakin tidak terkendali. Hal ini menyebabkan ketersediaan pohon gaharu di Indonesia
semakin berkurang dan langka tanpa diimbangi
dengan pohon-pohon gaharu baru. Kelangkaan ini disebabkan karena
pohon gaharu secara alami panen ketika pohon berumur diatas 10 tahun. Bahkan gaharu kualitas terbaik
hanya bisa didapatkan dari pohon yang telah berumur
diatas 30 tahun.
![]() |
Gambar 3 Ekspor gaharu dunia tahun 2007-2011 Sumber: (CITES 2013)
Upaya peningkatan produktivitas gaharu terus dilakukan, baik melalui kegiatan
pencarian bibit terbaik,
penanaman skala luas sampai dengan pengembangan
teknologi penghasil gaharu. Salah satu teknik yang saat ini mulai diminati masyarakat adalah inokulasi
gaharu, dimana pada proses tersebut pohon penghasil
gaharu berumur 5-6 tahun dilubangi dan disuntikkan sejenis cendawan atau jamur yang nantinya akan
bereaksi dengan pohon inang dan lingkungan sehingga menghasilkan gaharu yang juga memiliki kualitas
yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan gaharu di alam. Menurut
Touchwood (2012), gaharu yang dihasilkan melalui proses
budidaya dapat dipanen pada tegakan muda setelah
dua tahun penyuntikan dengan return antara
14-32 persen tergantung dari besarnya investasi
yang dilakukan.
Ekspor gaharu hingga tahun 2010 masih mengutamakan gaharu yang berasal
dari alam, namun mulai tahun 2011 hingga saat ini ekspor gaharu budidaya tercatat
berkontribusi dalam peningkatan jumlah ekspor gaharu Indonesia.
Realisasi ekspor gaharu baik yang berasal dari alam maupun budidaya
tahun
2008-2013 disajikan pada Gambar 4.
![]() |
Gambar 4 Ekspor gaharu
Indonesia
Dengan semakin
meningkatnya minat masyarakat untuk menanam pohon- pohon gaharu dan adanya teknologi pembudidayaan gaharu merupakan
peluang bagi Indonesia untuk
meningkatkan produktivitas gaharu, baik yang berasal dari alam maupun dari hasil budidaya.
Adanya teknologi budidaya
gaharu yang dimiliki
Indonesia diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam
melestarikan pohon penghasil gaharu di alam. Potensi gaharu di Indonesia
yang semakin besar, adanya dukungan
perkembangan teknologi gaharu serta kebutuhan
gaharu dunia yang terus meningkat merupakan peluang yang dapat
dimanfaatkan Indonesia dalam usaha
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan devisa negara. Oleh sebab itu maka perlu dikaji dan dirumuskan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi penawaran dan harga ekspor gaharu di Indonesia.
2.4
Pemanfaatan Gaharu
Pada pohon kayu gaharu yang berkualitas sangat baik, bagian gubal
pohonnya memiliki warna hitam pekat yang merata serta memiliki aroma harum khas
yang pekat saat dipotong atau disayat. Penggunaan dari kayu gaharu yang cukup
populer selain sebagai bahan parfum adalah sebagai aksesoris fashion. Kayu
gaharu sering digunakan sebagai bahan membuat gelang, kalung, hingga liontin.
Kayu ini juga kerap menjadi material untuk membuat tasbih.
Kayu gaharu juga lazim digunakan sebagai tanaman obat dalam membuat obat-obatan untuk beberapa
penyakit tertentu seperti sembelit, kembung, ginjal, diare, masuk angin, sesak
nafas, hingga gejala hipertensi. kandungan Kandungan kimia yang ada pada
tanaman gaharu antara lain adalah: noroxo-agarofuran, agarospirol, 3,4-
dihidroxy dihydroagarufuran, pmethoxybenzylaceton, aquilochin, Jinkohol,
jinkohol ermol, dan kusunol. Inti gaharu atau gubal gaharu aloeswood atau
eaglewood atau agarwood yang merupakan inti gaharu, damar wangi atau resin.
Inti gaharu ini merupakan substansiaromatic (resin aromatic/berbau harum) yang
termasuk dalam golongan sesquiterpen dan memiliki struktur kimia yang spesifik .
Pada kayu gaharu juga kerap menjadi pilihan
pelengkap produk-produk kosmetik dan juga perawatan tubuh seperti shampoo.
manfaat kayu gaharu lainnya adalah dalam bidang arsitektur dan interior
seperti kayu Meranti. Warnanya yang hitam membuat banyak orang yang
berminat menggunakannya sebagai pelengkap bahan bangunan, seperti kusen pintu.
Selain itu, kayu gaharu juga sering dimanfaatkan pada berbagai perabot dan furnitur interior, seperti kursi dan meja, atau sekedar sebagai dekorasi
penyempurna ruang. Dikenal sejak masa lampau, kayu gaharu di Nusantara juga
identik sebagai simbol dan perangkat untuk ritual kebudayaan dan adat istiadat
di beberapa daerah di Nusantara.
Daun
gaharu bisa dibuat menjadi teh daun pohon gaharu yang membantu kebugaran tubuh.
Senyawa aktif agarospirol yang terkandung dalam daun pohon gaharu dapat menekan
sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan, teh daun gaharu juga
ampuh untuk obat anti mabuk. Dengan adanya produk turunan dari gaharu tidak
hanya memanfaatkan gubalnya melainkan daun gaharu yang dapat dijadikan menjadi
olahan produk teh. Ampas dari sulingan
minyak dari marga Aquilaria di Jepang dimanfaatkan sebagai kamfer anti ngengat
dan juga mengharumkan isi lemari.
BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gaharu
merupakan komoditi perdagangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki
nilai jual tinggi. Salah satu jenis pohon penghasil gaharu yaitu jenis
Aquilaria malaccensis Lamk. Marga Aquilaria terdiri dari 15 spesies yang
tersebar di beberapa daerah tropis Asia. Di Indonesia ditemukan terutama di
Bangka serta di beberapa daerah tropis lain seperti Sumatera, Kamilmantan,
Sulawesi, Maluku dan Papua. Dalam pasar gaharu dunia, Indonesia
memiliki posisi strategis
karena memiliki sebagian besar
tanaman penghasil gaharu yang tersebar di seluruh pulau. Menurut Sumarna (2012), di Indonesia terdapat ± 27 jenis
tumbuhan penghasil gaharu yang
dikelompokkan kedalam 8 marga dan 3 suku.
Gaharu
mengandung resin atau damar wangi dan mengeluarkan aroma dengan keharuman yang
khas, sehingga diperlukan sebagai bahan baku industri parfum, obat-obatan,
kosmetik, dupa, pengawet serta untuk keperluan kegiatan agama. Adapun kandungan metabolit
sekunder pada daun gaharu yang telah diketahui dari penelitian sebelumnya
adalah flavonoid, glikosida, tanin dan steroid/triterpenoid.
Steroid/triterpenoid merupakan senyawa aktif dalam tumbuhan obat, diketahui
telah digunakan untuk penanganan penyakit termasuk diabetes melitus, gangguan
menstruasi, kontrasepsi, patukan ular, gangguan kulit, kerusakan hati dan
malaria
3.2 Saran
Perlu dilkukan pengembangan potensi pemanfaatan
gaharu untuk memaksimalkan nilai ekonomi gaharu sebagai komoditi Internasional.
Selain itu edukasi kepada masyarakat mengenai manfat dan pengelolaan gaharu
sangat diperlukan untuk meningkatkan perekonomian serta menjaga kelestarian
dari spesies gaharu di Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Badan Pusat Statistik (BPS) 2018.
Bulletin Statistik Perdagangan Luar NegeriEkspor menurut Bryant, RL., J. Rigg,
J & P. Stott. 1993. "Forest Transformation and Political Ecology in Southeast
Asia Global Ecology Biogeography Letter 3: 101-103.
Bryant et al. 1993. “Forest
Transformation and Political Ecology in Southeast Asia”, Global Ecology and
Biogeography Letters 3: 101-103.
Bryant, R & S. Bailey. 1997. Third World
Political Ecology. London: Routledge Press.
De Beer, H & MJ. Mc. Dermott. 1996.
The Economic Value of Non-Timber Forest Products in Southeast Asia. Amsterdam:
Netherlands Committee for IUCN.
Hasan. 2010. Ekonomi Politik
Kehutanan:Mengurai Mitos dan Fakta Pengelolaan Hutan. Jakarta: INDEF Press
Lopez-SA. & T. Page. 2018.”History
of Use and Trade of Agarwood”. Dalam Economic Botany 20 (10): 1-23 (Published
online). Majalah Bappeda Kaltim. “Upaya Mendukung Transformasi Ekonomi
Kal-Tim”.Vol. 16, Agustus. 2018. Halm 26-28.
Mega, I. M., & Swastini, D. A. (2010). Screening
fitokimia dan aktivitas antiradikal bebas ekstrak metanol daun gaharu (Gyrinops
versteegii). Jurnal Kimia (Journal of Chemistry).
Mohamed, R & SY. Lee. 2016. “Keeping up
Appearances: Agarwood Grades And Quality”. Dalam R. Mohamed (Editor) Agarwood:
Science behind the Fragrance. Malaysia: Springer Press, pp.93-98.
Neumann, RP. & E. Hirsch. 2000.
Commercialisation on Non-Timber Forest Products (NTFP): Review and Analysis of
Research. Bogor: Center for International Forestry Research (CIFOR) Press.
Nurrochmat, DR. & F.
Zubaidi, A., & Farida, N. (2017). Pertumbuhan
bibit gaharu pada beberapa jenis naungan. CROP AGRO, Jurnal Ilmiah Budidaya,
1(2), 92-96.



Komentar
Posting Komentar